Sudah lama tidak bertegur puisi. Dahulu hampir tiap minggu bertamu puisi. Jadi penikmat sih tidak, penulis pun bukan. Hanya orang lalu pengamat jauh. Tapi di penghujung minggu ini, jiwa ini merindu alunan indah puisi. Melankolisme meraja seiring galau usia. And then the poem starts here...

He. Jangan kau remahkan rasa. Hati berhak bicara. Perasaan berhak memekik. Galau berhak bersuara. Dan disini aku mewakili kalian. Mengurai kata. Bingung aku atas mereka.

Dia. Berbeda. Bertingkah tertata. Senyum tergoda. Busur melepas. Benteng hati bertahan berkata tak seiman. Meski terus berandai jika dia.

Dia berteriak. Riak berpamer. He kau. Lihat lah saya. Disini berpijak pada batu yang benar. Senyum itu pias. Gosip itu gendang. Salah itu musiknya.

Dia banyak bercakap. Sayang pikiran tak menangkap. Menyela disela tak sabaran. Namun simpati tiada cela. Sayang berwujud tanpa kata.

Dia ekspresif. Dikekang lepas namun mengekang. Aku dan dia seirama. Senang mencela dunia. Hanya ada beda menjulang.

Dia melunak sejak dunia mengeras. Hidup keras adalah jalan. Merasa perasa adalah sifat. Apapun itu tetap sahabat.

Dia dia dia.

Hanya satu dia meraja hati. Kumulonimbus dari sekian kumulus.
Asumsi tentangnya bergelombang pecah. Pias dalam otak. Bergulung besar menabrak. Hanya berdoa saat reda biarlah tetap reda. Hingga kemudian
Rasa akan badai terlupa.
Hingga senyumku takkan rikuh bertemu tatapanmu.
Dan logikaku takkan berhenti meski mendengar suaramu. 
Dari kecil, sejujurnya, saya tidak pernah punya keinginan untuk pergi ke ranah Minang. Untuk mencicipi makanannya yang terkenal lezat pun tidak. Namun, nasib akhirnya membawa saya ke sana. Perjalanan ke Minang merupakan salah satu perjalanan paling berkesan saya di tahun 2015.

Ceritanya teman saya menikah. Karena di unit kerja saya dia lah yang paling sering dengar keluh kesah saya, saya merasa wajib untuk datang. Tidak ada ekspektasi lebih mengenai Padang dan Bukittinggi waktu itu, tapi begitu landing saya dengan cepat terkesan dengan bentuk bandara yang dibangun berdasarkan rumah adat setempat.

Setelah itu, saya bersama rombongan langsung dijemput oleh travel. Oh iya. Untuk menuju Bukittinggi hanya tersedia travel. Harga per orangnya 35 Ribu rupiah. Namun, karena kami ingin cepat-cepat sampai di hotel, kami menyewa satu mobil seharga 150 ribu rupiah sekali jalan.

Di perjalanan, saya sangat menikmati alam Minang yang hijau dan berbukit bukit. Rumah-rumah di sana masih memiliki halaman yang luas. Beberapa juga masih memiliki bentuk rumah adat. saking menikmatinya saya sampai berpikir kalau suatu hari nanti akan membeli rumah di daerah sini. Hmmm~ 

Kami berhenti dahulu untuk makan di Sate Padang Mak Sukur yang terkenal di Bukittinggi. Kuahnya kental dan rasanya jauh berbeda dengan sate padang ala Jawa yang pernah saya makan. Harganya pun tidak mahal, hanya 25 ribu rupiah per porsi. Setelah itu kami langsung diantar ke hotel. Saya menginap di Treeli Boutique Hotel, small but nice place to stay.  

Esok harinya, sebelum pergi ke walimahan teman, kami mampir dahulu ke Taman Panorama. Dari taman tersebut terlihat akan terlihat pemandangan Ngarai Sianok, sebuah lembah yang dikelilingi bukit bukit dan sungai. Waw! It was really a great view. Yah. Maklum sudah hampir sepuluh tahun saya tidak pernah melihat pemandangan sehijau ini. Bagi yang merasa pemandangan tersebut biasa saja mohon maklumi saya. Agak Nguto B)

Hanya Allah SWT yang bisa melukis seindah ini. Subhanallah. B)
Di area Taman Panorama terdapat situs Lubang Jepang. Terdapat guide lokal yang akan langsung menawari begitu terdapat pengunjung yang datang. Harganya relatif mahal sih. Untuk ukuran Goa Jepang yang hanya sekelumit itu, kami harus membayar seratus ribu rupiah. Untuk masuk ke dalam, kita harus menuruni 132 tangga. Untungnya terdapat pintu keluar lain sehingga kami tidak perlu menaiki tangga tersebut untuk kembali. Sebenarnya lubang Jepang ini cukup panjang (sekitar 6 kilometer), namun yang dibuka hanya sekitar 1.5 kilometer. Terdapat beberapa jalan keluar yang mengarah ke Ngarai Sianok. Namun jalan tersebut demi keamanan ditutup dengan teralis besi. Pembangun lubang ini adalah para romusha yang berasal dari luar Bukittinggi. Hal ini agar lubang jepang tersebut tidak diketahui oleh masyarakat umum.

Lorong Lubang Jepang
Setelah berkeliling goa Jepang, saatnya berkunjung ke tujuan utama kami. Kondangan alias menghadiri walimah alias wedding party. Again. A 'waw' come from my mind. Masyarakat Minang ternyata sangat total dalam menyiapkan acara walimah. Mulai dari dekor kamar pengantin, pelaminan, tempat menyabut tamu dan lain sebagainya. Makanan yang disajikan juga kece. Meskipun acara tersebut diadakan di rumah sendiri bukan di gedung. Berikut foto fotonya. :)


Hiasan atap depan pelaminan
Kamar Pengantin

Kolesterol. :')

Atap dalam rumah. Tempat makan makan

Nah, setelah kondangan adalah part yang paling seru. Istano Baso Pagaruyuang atau singkatnya Istana Pagaruyung. Istana tersebut merupakan istana kerajaan Pagaruyung, sebuah kerajaan Melayu. Istana ini terletak di Batu Sangkar atau sekitar satu jam dari Bukittinggi. Di istana ini kita dapat menyewa pakaian adat Minang dan berfoto cantik di kompleks istana. Yang perlu diketahui adalah istana ini merupakan replika istana yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966. Dibangun kembali pada 1976 namun lagi lagi mengalami kebakaran hebat pada tahun 2007.

Istana Baso Pagaruyung tampak depan

Halaman Istana Pagaruyung tampak dari Atas (Lantai Tiga)

View Samping Istana Pagaruyung
Istana Pagaruyung merupakan istana yang sangat tepat digunakan untuk belajar budaya Minang. Selain penyewaan baju daerah, Istana Pagaruyung memiliki ornamen-ornamen khas Minang serta senjata dan peralatan dapur yang digunakan pada jaman kerajaan Pagaruyung. Saat saya berkunjung saya tidak mendapati guide yang menawarkan jasa kepada pengunjung, sehingga masih banyak pertanyaan pertanyaan tak terjawab yang melintas di hati saya. termasuk kenapa kamarnya dipisah sama kain doang dan kenapa kamarnya di depan banget kan mengganggu yang datang. Berkeliling Istana Pagaruyung tidak membutuhkan waktu lama. Yang bikin lama adalah foto-fotonya. Ada banyak spot potret bagus di kompleks istana ini.

Puas berpose dan mengeksplor Istana Pagaruyung, kami kembali ke Bukittinggi untuk beristirahat. Eh, tapi sebelumnya kami makan dulu di RM Evi yang kata ibu ibu rombongan kami terkenal dengan gulai ikannya. But, unfortunately, gulai ikannya habis guys! Mereka kecewa, saya sih enggak karena saya masih bisa mencicipin bakwan ikan bili yang enak sekali. :)

Esoknya, kami pergi ke icon Bukittinggi (Jam Gadang). Jika anda menginap di Treeli atau Limas Hotel anda bisa berjalan kaki sekitar lima belas menit ke arah selatan. Letak Jam Gadang dekat dengan Pasar Atas Pasar Bawah. Jadi bisa sekalian belanja.  

Pemandangan dari Jam Gadang
Karena saya tidak tertarik sama sekali untuk belanja. Saya jalan jalan sendiri sambil googling empat yang menarik. Saat itu lah saya mendapati bahwa ada sebuah tempat bernama Benteng Fort De Kock di dekat situ, Mengikuti apa kata Maps saya berjalan. Benteng tersebut letaknya tersembunyi sehingga jika hanya mengandalkan Maps hampir pasti tidak ketemu. Bersyukur saya jeli melihat sign sign yang terdapat di jalan. Jalannya melewati gang gang kecil dan ujungnya ada di dekat tempat yang ditunjukkan oleh Maps. Namun ceritanya saya kecewa nih. Ternyata benteng tersebut merupakan Kebun Binatang. -__________-

Benteng Fort De Kock
Jam Gadang
Di perjalanan pulang, ada dua tempat lagi yang menarik untuk dikunjungi. Yang pertama adalah Lembah Anai. Air terjun ini sebenarnya terletak di pinggir jalan utama. Namun karena saat berangkat kemarin hari sudah gelap. Kami tidak dapat menikmati pemandangan  yang ada disini. Tempat kedua adalah RM Lamun Ombak. Masakan padang terenak sepanjang perjalanan. Hahaha.
Lembah Anai
Sekian. I dont really like writing diaries. Thus finishing this note takes almost a month. I prefer writing article~! >o<
Belitung becomes so famous nowadays. It is because one of its residents writes the best seller series 'The Rainbow Troops' which the stories take place in Belitung. Belitung itself located in the north of Java. Straight above Jakarta in the map. Belitung provides us with the beautiful view, especially, of its beach and some place that become setting of 'Rainbow Troops' series. Unfortunately, I havent visited its popular beaches like Pulau Lengkuas, Tanjung Kelayang, Pulau Burung and so on. I hope someday I could explore those beach.

It is not so hard to visit the attraction. There are many places in Tanjung Pandan, the capital of Belitung, that provide us with car and motorcycle rental. For motorcycle is around 80 thousand rupiahs for 24 hours rent. For car about 500 thousand rupiahs include driver for 24 hours rent. The hotel is not so expensive also. I stayed on Rahat Icon Hotel. It costed about 300 thousand Rupiah per night. The staff was so helpful and nice.

I took morning flight with Garuda Indonesia from Jakarta to Tanjung Pandan. Oh ya, for motorcycle rental you can not ask the rental to meet in the airport. They will say that it is too far away from Tanjung Pandan, so if you rent motorcycle you need to go to Tanjung Pandan first by taxi.

I arrived at Tanjung Pandan at 9 am and went to the hotel afterward. I rent motorcycle at the hotel and went out right after. Our first destination is SD Muhammadiyah Gantong and Museum Kata Andrea Hirata. Actually me and my friend are fans of Rainbow Troops. For us, that stories is beautiful and meaningful. I am in love for Lintang in the novel and became fan of Mahar in the Cinema. Hahaha.

For me, visiting Museum is one of my hobby because I'll find many collection that is old and historical (sometimes I found it weird and funny). In this museum, what I found is memories and imaginations about Rainbow Troop. I could see how is Gulliver, remember when Ikal shouted in the film, remember how handsome Mahar is, remember many beautiful and encouraging statement from Andrea Hirata in the books. And So on. If you are fans of Rainbow Troops you should go there!
By motorcycle, from Tanjung Pandan it would take at least two and half hours to reach this place
There is a small stage to express yourself by performing anything

Ah ya~ Dont forget to visit the School "SD Muhammadiyah Gantong" which took only five-ten minutes from the Museum
After that, because we were curious about how delicious the coffee there, we went to Manggar. But, unfortunately we  could not find the right place to drink coffee. We drink in a small coffee shop near a lake and found that its taste was similar with instant coffee we usually drink. From Gantong to Manggar took at least one hour. From Gantong to Manggar, we stopped by Berage restaurant to eat Gangan (Belitung fish soup).

From Manggar we moved to Dewi Kwan Im temple. This temple has gigantic Dewi Kwan Im statue in the backyard. Unfortunately, at that time the statue was renovated. :(

After visiting the temple, we went straight to Tanjung Pandan. Belitung is typical small town which one village to another is separating by coconut forest and not so many people going out. It is soooo quiet comparing with Jakarta or Surabaya. And after small village there would be a long forest that make me frustating because I worry that something bad would be happened to us. Because of that worry I dont even care about my speedometer. What I only care about is I should have reached Tanjung Pandang before dark. I reached Tanjung Pandan at 6 pm. Hmm~ not so late.

Then we go to Mie Atep in Sriwijaya Street. It was delicious! You should try!

Second day, I went to Tanjung Tinggi Beach and Kaolin Lake. Both of them is beautiful! Tanjung Tinggi Beach has many gigantic rocks that looks stunning. From Tanjung Pandan it took at least one hour. Kaolin Lake is nearer. You would take only 30 minutes. But from Tanjung Tinggi it would take at least one hour drive.
I loved that rocks! :p

In Instagram so many photos taken down Kaolin Lake but at that time none went down just some children who bravely went down and someone warned them. So I just dont know if it is safe to go down or not.


This blog is continuation from cimolbandung.blogspot.com.. Why do I change my blog address? Because I got tired to change my login email everytime I want to write on my blog. My previous blog is using my yahoo account. And now, my primary email is in google account. Actually, I already tried to change, but it could not be changed till now. :(

I still use cimol for my blog address. Why? Because I used to be called that way in Senior High School and felt that the nickname is so cool, though it is actually name for street snack. Hahaha.

Anyway, if you want to read some articles of mine, just please kindly visit www.cimolbandung.blogspot.com. Thank you~~ :)